AI SIAP

Ketika Semuanya Menjadi Cepat, Kebutuhan Pun Ikut Berlari: Pada Akhirnya, Uang Hanya Mampir Sebentar

Ketika Semuanya Menjadi Cepat, Kebutuhan Pun Ikut Berlari: Pada Akhirnya, Uang Hanya Mampir Sebentar

Beberapa tahun lalu, saya pernah berpikir bahwa masalah hidup akan selesai jika penghasilan saya meningkat.

Logikanya sederhana. Jika penghasilan bertambah, hidup pasti menjadi lebih mudah. Tagihan tidak lagi menakutkan, masa depan terasa lebih aman, dan mungkin saya akhirnya bisa membeli barang yang selama ini hanya saya masukkan ke keranjang belanja tanpa pernah benar-benar checkout.

Ternyata, hidup memiliki selera humor yang sangat unik.

Ketika penghasilan bertambah, kebutuhan ternyata ikut bertambah. Ketika gaji naik, pengeluaran ikut naik. Ketika teknologi membuat pekerjaan lebih cepat, kehidupan justru terasa semakin sibuk.

Dan suatu hari, saya duduk sambil melihat mutasi rekening, lalu bertanya dalam hati: "Perasaan baru kemarin gajian?"

Dulu Kita Mengejar Uang, Sekarang Kita Mengejar Waktu

Ketika masih muda, kita percaya bahwa uang adalah jawaban dari hampir semua masalah.

Kita belajar lebih giat, bekerja lebih keras, mengambil lembur, membangun usaha, dan berusaha menjadi lebih produktif dari hari ke hari.

Lalu teknologi datang membantu kita.

Pekerjaan yang dulu membutuhkan waktu seminggu, kini selesai dalam sehari. Komunikasi yang dulu membutuhkan berhari-hari, sekarang terjadi dalam hitungan detik. Artificial intelligence bahkan mulai membantu kita berpikir, menulis, dan mengambil keputusan.

Secara teori, kita seharusnya memiliki lebih banyak waktu untuk hidup.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Kita tidak mendapatkan lebih banyak waktu. Kita hanya mendapatkan lebih banyak pekerjaan untuk diisi ke dalam waktu yang sama.

Ketika Penghasilan Naik, Standar Hidup Diam-Diam Ikut Naik

Saya pernah berkata pada diri sendiri, "Kalau penghasilan saya mencapai angka tertentu, saya pasti akan merasa cukup."

Ternyata angka itu selalu berubah.

Dulu, makan di restoran adalah kemewahan. Sekarang menjadi kebiasaan. Dulu, ponsel baru dibeli setiap lima tahun. Sekarang dua tahun saja sudah terasa ketinggalan. Dulu, liburan adalah bonus. Sekarang menjadi kebutuhan untuk menjaga kesehatan mental.

Bukan karena kita serakah. Kita hanya hidup di dunia yang terus bergerak dan terus menaikkan definisi tentang "cukup".

Akibatnya, penghasilan yang dulu terasa besar sekarang terasa biasa saja.

Uang Ternyata Hanya Singgah Sebentar

Hari gajian selalu terasa seperti festival kecil.

Kita membuka aplikasi perbankan dengan penuh harapan. Angkanya terlihat meyakinkan. Masa depan tampak cerah.

Lalu datanglah tagihan.

Listrik.

Internet.

Cicilan.

Biaya sekolah.

Asuransi.

Kebutuhan rumah tangga.

Dan entah bagaimana, uang yang baru saja datang sudah bersiap meninggalkan kita lagi.

Terkadang saya merasa uang modern memiliki kemampuan teleportasi yang belum berhasil dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

Yang Kaya Mengejar Waktu, Yang Biasa Mengejar Uang

Semakin bertambah usia, saya mulai menyadari sesuatu yang menarik.

Banyak orang yang memiliki uang justru berusaha membeli waktu. Mereka membayar untuk kenyamanan, efisiensi, kesehatan, dan ketenangan.

Sementara itu, sebagian besar dari kita menghabiskan waktu untuk mendapatkan uang.

Ironisnya, ketika uang mulai terkumpul, waktu yang tersisa ternyata tidak sebanyak yang kita bayangkan.

Tahu-tahu orang tua sudah menua. Anak-anak sudah tumbuh besar. Teman-teman mulai sibuk dengan kehidupannya masing-masing.

Dan kita bertanya-tanya, kapan semua itu terjadi?

Apakah Semua Ini Berarti Kita Hidup Sia-Sia?

Pertanyaan ini mungkin terdengar menakutkan.

Jika semua yang kita kejar ternyata tidak pernah benar-benar cukup, lalu untuk apa kita bekerja keras?

Namun, mungkin masalahnya bukan karena hidup tidak memiliki arti.

Mungkin kita terlalu lama percaya bahwa arti hidup selalu berada di masa depan.

Kita berpikir bahwa kita akan bahagia nanti.

Kita akan tenang nanti.

Kita akan menikmati hidup nanti.

Padahal, "nanti" adalah tempat yang tidak pernah benar-benar kita capai.

Pada Akhirnya, Semua Orang Ternyata Sama Saja

Kita semua lahir tanpa membawa apa pun.

Kita semua berusaha mencari kehidupan yang lebih baik.

Kita semua pernah merasa takut, lelah, kehilangan, dan berharap.

Dan pada akhirnya, tidak ada seorang pun yang bisa membawa uang, jabatan, atau pencapaian mereka pergi.

Yang tersisa hanyalah kenangan yang kita buat, orang-orang yang kita cintai, dan jejak kecil yang kita tinggalkan di hati orang lain.

Mungkin itulah sebabnya mengapa banyak orang tua di usia senja jarang berbicara tentang berapa banyak uang yang mereka hasilkan.

Mereka lebih sering bercerita tentang keluarga, persahabatan, cinta, dan momen-momen sederhana yang dulu dianggap biasa.

Penutup

Mungkin teknologi akan terus membuat hidup semakin cepat.

Mungkin penghasilan kita akan naik, lalu kebutuhan ikut mengejarnya.

Mungkin uang memang hanya akan mampir sebentar.

Tetapi setelah memikirkan semua itu, saya mulai percaya bahwa tujuan hidup bukanlah memenangkan perlombaan yang tidak pernah selesai.

Tujuan hidup mungkin jauh lebih sederhana.

Yaitu pulang dengan hati yang tenang, memiliki orang yang bisa kita peluk, dan menyadari bahwa meskipun dunia berjalan sangat cepat, kita pernah benar-benar hidup di dalamnya.

Karena pada akhirnya, setelah semua kesibukan, semua teknologi, dan semua perjuangan, ternyata kita semua sedang mencari hal yang sama.

Yaitu alasan untuk merasa bahwa hidup ini memang layak dijalani.


Baca juga perkembangan teknologi masa depan di Pisbon Aviation.

Temukan inovasi kendaraan masa depan di Pisbon Automotive.

Lihat berbagai analisis dan riset menarik di Pisbon Research.

Teknologi Membuat Kita Semakin Produktif, Tetapi Mengapa Hidup Terasa Semakin Cepat? Tahu-Tahu Kita Sudah Tua

Teknologi Membuat Kita Semakin Produktif, Tetapi Mengapa Hidup Terasa Semakin Cepat? Tahu-Tahu Kita Sudah Tua

Beberapa hari yang lalu, saya sedang membersihkan galeri foto di ponsel. Awalnya hanya ingin menghapus screenshot promo yang tidak pernah saya gunakan. Namun, entah bagaimana, saya justru menemukan foto diri saya sepuluh tahun yang lalu.

Saya terdiam cukup lama.

Bukan karena saya terlihat lebih tampan. Itu jelas bukan faktanya. Tetapi karena saya baru menyadari satu hal yang sangat mengganggu: kapan tepatnya semua waktu itu berlalu?

Perasaan itu mungkin juga pernah Anda rasakan. Rasanya baru kemarin kita belajar menggunakan email. Baru kemarin kita membuat akun media sosial pertama. Baru kemarin kita berkata, "Nanti kalau sudah mapan..."

Tetapi sekarang, AI sudah bisa menulis artikel, mobil mulai bisa mengemudi sendiri, anak-anak lahir dengan kemampuan mengoperasikan tablet yang lebih baik daripada orang tuanya, dan tanpa sadar, kita mulai mengeluh sakit punggung saat bangun tidur.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Kita Hidup di Era Paling Produktif dalam Sejarah Manusia

Tidak pernah dalam sejarah manusia, kita memiliki alat bantu sekuat sekarang.

Kita dapat mengirim pesan ke seluruh dunia dalam hitungan detik. Kita dapat bekerja dari rumah, memesan makanan tanpa keluar, mempelajari keterampilan baru melalui internet, dan bahkan meminta kecerdasan buatan membantu menyelesaikan pekerjaan yang dulu membutuhkan waktu berhari-hari.

Secara teori, semua kemajuan ini seharusnya membuat kita memiliki lebih banyak waktu luang.

Namun anehnya, hampir semua orang modern memiliki keluhan yang sama.

"Waktu terasa semakin cepat."

"Saya tidak tahu kenapa, tahu-tahu sudah akhir tahun lagi."

"Perasaan baru kemarin umur dua puluh."

Teknologi Menghemat Waktu, Tetapi Juga Mengisi Setiap Detik Kehidupan Kita

Dulu, ketika menunggu seseorang, kita benar-benar menunggu. Kita melihat jalan, memandangi langit, atau sekadar melamun.

Sekarang, tidak ada lagi waktu kosong.

Menunggu lima detik? Buka ponsel.

Naik lift? Buka media sosial.

Menunggu makanan datang? Balas email.

Sebelum tidur? Scroll video pendek selama "lima menit" yang entah bagaimana berubah menjadi satu jam.

Teknologi memang membuat proses menjadi lebih cepat. Namun, alih-alih menggunakan waktu yang dihemat untuk beristirahat, kita justru mengisinya dengan aktivitas baru.

Kita tidak lagi hidup lebih santai. Kita hanya menjadi lebih sibuk dengan cara yang lebih efisien.

Produktivitas yang Tinggi Tidak Selalu Berarti Hidup yang Penuh Makna

Saya pernah merasa sangat bangga karena berhasil menyelesaikan banyak pekerjaan dalam satu hari. Inbox kosong. Daftar tugas selesai. Kalender penuh dengan aktivitas produktif.

Namun, ketika malam tiba, muncul pertanyaan yang jauh lebih sulit dijawab.

"Sebenarnya, hari ini saya hidup untuk apa?"

Mungkin inilah paradoks terbesar manusia modern.

Kita memiliki teknologi terbaik, produktivitas tertinggi, dan akses informasi terbesar dalam sejarah. Namun, pada saat yang sama, kita juga menjadi generasi yang paling sering merasa kelelahan, kehilangan arah, dan kekurangan waktu.

Mengapa Semakin Tua, Waktu Terasa Semakin Cepat?

Para ilmuwan dan psikolog memiliki banyak teori. Salah satunya adalah karena ketika kita kecil, hampir semua pengalaman terasa baru. Otak kita merekam banyak detail sehingga waktu terasa panjang.

Ketika dewasa, rutinitas mengambil alih kehidupan.

Bangun.

Bekerja.

Membayar tagihan.

Tidur.

Ulangi.

Karena semakin sedikit pengalaman baru yang kita alami, otak kita seperti memampatkan waktu. Akibatnya, lima tahun terasa seperti lima bulan.

Dan sebelum kita menyadarinya, anak-anak tumbuh besar, orang tua bertambah tua, rambut mulai berkurang, dan dokter mulai memanggil kita dengan sapaan "Bapak" atau "Ibu".

Apakah Ini Berarti Hidup Tidak Ada Artinya?

Pertanyaan ini mungkin pernah muncul dalam benak banyak orang saat terbangun pukul dua pagi.

Jika semuanya berlalu begitu cepat, untuk apa kita bekerja keras? Untuk apa kita mengejar kesuksesan? Untuk apa semua ini?

Namun, mungkin kita sedang melihat hidup dari sudut yang salah.

Mungkin arti hidup bukanlah tentang memperlambat waktu.

Mungkin arti hidup adalah menyadari bahwa waktu memang terbatas.

Karena justru keterbatasan itulah yang membuat setiap momen menjadi berharga.

Barangkali Kita Tidak Kekurangan Waktu, Kita Hanya Kurang Menyadarinya

Kita sering berpikir bahwa kebahagiaan akan datang setelah target berikutnya tercapai.

Setelah gaji naik.

Setelah rumah terbeli.

Setelah bisnis berhasil.

Setelah anak besar.

Padahal, ketika target itu tercapai, waktu tetap berjalan dengan kecepatan yang sama.

Dan sering kali, yang paling kita rindukan bukanlah pencapaian besar, melainkan momen kecil yang dulu kita anggap biasa.

Suara orang tua memanggil kita.

Tertawa bersama teman lama.

Pulang ke rumah sebelum semuanya berubah.

Duduk santai tanpa merasa bersalah karena tidak produktif.

Jadi, Apa Arti Semua Ini?

Semakin saya bertambah usia, semakin saya percaya bahwa hidup bukanlah perlombaan untuk menjadi manusia paling produktif.

Teknologi akan terus berkembang. AI akan semakin pintar. Dunia akan semakin cepat.

Tetapi kita tetap manusia.

Kita tetap membutuhkan waktu untuk mencintai, kehilangan, tertawa, gagal, memaafkan, dan mengingat.

Mungkin arti hidup bukanlah tentang berapa banyak yang berhasil kita kerjakan.

Mungkin arti hidup adalah tentang siapa yang kita temui, siapa yang kita sayangi, dan momen apa yang benar-benar kita jalani dengan penuh kesadaran.

Penutup

Jika hari ini Anda merasa waktu berjalan terlalu cepat, mungkin Anda tidak sendirian.

Mungkin kita semua sedang mengalami hal yang sama.

Kita hidup di era paling cepat dalam sejarah manusia, sambil berusaha memahami mengapa hati kita masih merindukan kehidupan yang lebih lambat.

Dan mungkin, sebelum hari ini berubah menjadi kenangan, ada baiknya kita berhenti sejenak.

Bukan untuk mengejar waktu.

Tetapi untuk benar-benar menjalani waktu yang masih kita miliki.


Baca juga perkembangan teknologi masa depan di Pisbon Aviation.

Temukan inovasi kendaraan masa depan di Pisbon Automotive.

Lihat berbagai analisis dan riset menarik di Pisbon Research.

Yang Paling Melelahkan dalam Hidup Ternyata Bukan Bekerja, Tetapi Berpura-Pura Baik-Baik Saja


Beberapa waktu lalu, seorang teman bertanya kepada saya, "Apa kabar?" Saya menjawab seperti kebanyakan orang dewasa pada umumnya: "Baik."

Jawaban itu keluar begitu saja, otomatis, cepat, dan terdengar meyakinkan. Padahal, setelah dipikir-pikir lagi, saya sendiri tidak yakin apakah saya benar-benar sedang baik-baik saja.

Mungkin kita semua pernah berada di titik itu. Titik ketika kita terlalu lelah untuk menjelaskan apa yang sebenarnya kita rasakan, sehingga memilih jawaban paling aman: "Aku baik."

Lucunya, semakin bertambah usia, semakin kita ahli menyembunyikan rasa lelah.

Kita Belajar Menjadi Kuat, Tetapi Lupa Cara Mengaku Lelah

Sejak kecil, kita diajarkan untuk menjadi kuat. Jangan mudah menyerah. Jangan terlalu banyak mengeluh. Jangan membuat orang lain khawatir.

Nasihat itu tidak salah. Namun, tanpa sadar, banyak dari kita tumbuh menjadi orang yang sangat pandai menahan semuanya sendirian.

Kita tersenyum saat bekerja, bercanda saat berkumpul, dan tertawa saat bertemu teman. Tetapi ketika malam tiba dan suasana mulai sepi, kita baru sadar bahwa ada banyak hal yang selama ini kita pendam.

Dan ternyata, yang paling melelahkan bukanlah pekerjaan, bukan juga kesibukan, melainkan usaha untuk terus terlihat kuat.

Ada Lelah yang Tidak Bisa Disembuhkan dengan Tidur

Dulu saya berpikir bahwa semua rasa lelah bisa hilang dengan tidur cukup. Sampai akhirnya saya menemukan jenis lelah yang berbeda.

Lelah karena memikirkan masa depan. Lelah karena membandingkan diri dengan orang lain. Lelah karena merasa tertinggal. Lelah karena terus bertanya apakah semua yang sedang dijalani ini benar-benar akan membawa kita ke tempat yang kita inginkan.

Ironisnya, semakin kita berusaha melupakan rasa lelah itu, semakin sering ia datang mengetuk pikiran kita saat lampu kamar sudah dimatikan.

Media Sosial Membuat Kita Merasa Semua Orang Sedang Menang

Setiap hari kita melihat orang lain mendapatkan pekerjaan baru, membeli rumah, menikah, berlibur, membangun bisnis, dan terlihat sangat bahagia.

Sementara itu, kita sedang duduk di kamar sambil menghitung apakah saldo rekening masih cukup sampai akhir bulan.

Kita tahu bahwa media sosial hanyalah potongan kecil kehidupan seseorang. Namun, entah mengapa, hati kita tetap saja sering merasa tertinggal.

Mungkin karena manusia memang tidak terlalu pandai membandingkan perjuangannya sendiri dengan pencapaian orang lain.

Tidak Semua Orang yang Tertawa Sedang Bahagia

Semakin dewasa, saya semakin memahami bahwa banyak orang yang terlihat baik-baik saja sebenarnya sedang berjuang keras.

Ada yang tertawa sambil menyimpan kesedihan. Ada yang tetap bekerja meskipun sedang kehilangan harapan. Ada yang terus membantu orang lain, padahal dirinya sendiri sedang membutuhkan pertolongan.

Mungkin itulah alasan mengapa kita seharusnya lebih berhati-hati dalam memperlakukan orang lain. Karena kita tidak pernah benar-benar tahu beban apa yang sedang mereka bawa.

Beristirahat Bukan Berarti Menyerah

Salah satu pelajaran paling sulit yang saya pelajari adalah memahami bahwa beristirahat bukan berarti kalah.

Tidak apa-apa jika hari ini Anda tidak seproduktif biasanya. Tidak apa-apa jika Anda membutuhkan waktu untuk diam. Tidak apa-apa jika Anda harus berhenti sejenak untuk mengumpulkan tenaga.

Karena bahkan mesin yang paling canggih sekalipun membutuhkan waktu untuk didinginkan. Apalagi hati manusia.

Suatu Hari, Kita Akan Berterima Kasih pada Diri Sendiri

Mungkin hari ini hidup masih terasa berat. Mungkin masih banyak hal yang belum berhasil kita capai. Mungkin kita masih sering merasa gagal.

Namun, saya percaya bahwa suatu hari nanti, kita akan melihat ke belakang dan berterima kasih kepada diri sendiri karena memilih untuk tetap bertahan.

Bukan karena kita selalu kuat. Bukan karena kita tidak pernah menangis. Tetapi karena di tengah semua rasa lelah itu, kita tetap memilih untuk melanjutkan hidup.

Penutup

Jika hari ini Anda merasa lelah, mungkin Anda tidak perlu memaksa diri untuk terlihat baik-baik saja.

Karena menjadi manusia bukan berarti harus selalu kuat. Menjadi manusia berarti berani mengakui bahwa terkadang kita juga rapuh.

Dan siapa tahu, mungkin setelah membaca tulisan ini, Anda akan sedikit lebih baik kepada diri sendiri.

Sebab setelah dipikir-pikir, orang yang paling lama menemani kita sepanjang hidup ternyata bukan siapa-siapa.

Melainkan diri kita sendiri.


Baca juga perkembangan teknologi masa depan di Pisbon Aviation.

Temukan inovasi kendaraan masa depan di Pisbon Automotive.

Lihat berbagai analisis dan riset menarik di Pisbon Research.

Ketika Orang Tua Mulai Menjadi Tua, Kita Baru Menyadari Bahwa Waktu Adalah Hal yang Paling Kejam

Ketika Orang Tua Mulai Menjadi Tua, Kita Baru Menyadari Bahwa Waktu Adalah Hal yang Paling Kejam

Dulu, ketika saya masih kecil, saya selalu berpikir bahwa orang tua saya adalah manusia super. Mereka bangun paling pagi, tidur paling malam, tahu hampir semua jawaban, dan seolah tidak pernah lelah.

Saya percaya bahwa mereka akan selalu seperti itu. Selalu kuat. Selalu ada. Selalu mampu memperbaiki semua masalah yang saya hadapi.

Ternyata, seperti kebanyakan hal yang kita yakini saat kecil, saya juga salah tentang itu.

Kita Tidak Menyadari Mereka Sedang Bertambah Tua

Hal yang paling aneh tentang waktu adalah ia bergerak sangat lambat ketika kita menjalaninya, tetapi terasa sangat cepat ketika kita melihat ke belakang.

Kita tidak pernah benar-benar menyadari kapan rambut orang tua mulai memutih. Kita tidak ingat kapan langkah mereka mulai melambat. Kita bahkan tidak sadar kapan mereka mulai meminta bantuan untuk hal-hal yang dulu mereka lakukan sendiri.

Karena perubahan itu tidak terjadi dalam satu hari. Ia datang pelan-pelan, begitu pelan sampai kita menganggap semuanya masih baik-baik saja.

Dulu Mereka Menggandeng Tangan Kita

Saya masih ingat bagaimana dulu orang tua menggandeng tangan kita saat menyeberang jalan. Mereka memastikan kita tidak jatuh, tidak tersesat, dan tidak terluka.

Mereka bekerja keras agar kita bisa sekolah, bisa makan, bisa bermimpi, bahkan ketika mereka sendiri mungkin harus mengorbankan banyak hal.

Lucunya, ketika kita sudah dewasa, justru kita yang sering lupa menggenggam tangan mereka.

Kita terlalu sibuk mengejar karier, mengejar target, mengejar kehidupan yang lebih baik, sampai tanpa sadar waktu yang kita miliki bersama mereka semakin sedikit.

Kita Selalu Berpikir Masih Ada Waktu

"Nanti saja pulangnya kalau sudah tidak sibuk."

"Nanti saja teleponnya kalau pekerjaan selesai."

"Nanti saja liburannya kalau kondisi keuangan lebih baik."

Entah berapa banyak keputusan dalam hidup yang dibuat berdasarkan keyakinan bahwa kita masih memiliki banyak waktu.

Padahal kenyataannya, tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu berapa banyak waktu yang tersisa.

Yang Paling Menyakitkan Adalah Penyesalan yang Terlambat

Saya pernah mendengar seseorang berkata bahwa kehilangan bukanlah hal yang paling menyakitkan. Yang paling menyakitkan adalah penyesalan atas hal-hal yang tidak sempat kita lakukan.

Tidak sempat mengatakan terima kasih.

Tidak sempat meminta maaf.

Tidak sempat pulang.

Tidak sempat duduk lebih lama untuk mendengarkan cerita yang sebenarnya sudah pernah kita dengar berkali-kali.

Karena pada akhirnya, kita tidak akan pernah merindukan uang yang kita cari. Kita akan merindukan waktu yang tidak kita berikan.

Kesuksesan Tidak Akan Pernah Menggantikan Kehadiran

Kita bekerja keras untuk membahagiakan keluarga. Itu adalah niat yang mulia.

Namun, ada satu hal yang sering lupa kita pahami: terkadang orang tua tidak membutuhkan hadiah mahal, rumah besar, atau pencapaian luar biasa.

Yang mereka inginkan sering kali jauh lebih sederhana.

Mereka hanya ingin mendengar suara kita. Mengetahui bahwa kita sehat. Melihat kita pulang. Duduk bersama kita, meskipun hanya sebentar.

Karena bagi mereka, kehadiran kita jauh lebih berharga daripada apa pun yang bisa kita beli.

Jika Mereka Masih Ada, Mungkin Hari Ini Adalah Waktu yang Tepat

Jika hari ini orang tua Anda masih ada, mungkin tidak perlu menunggu momen spesial.

Telepon mereka. Kirim pesan. Tanyakan apakah mereka sudah makan. Dengarkan cerita yang mungkin sudah pernah diceritakan puluhan kali.

Karena suatu hari nanti, mungkin kita akan memberikan apa saja untuk bisa mendengar cerita itu sekali lagi.

Dan jika hari itu datang, kita akan menyadari bahwa waktu memang selalu menjadi hal yang paling mahal di dunia.

Penutup

Saya tidak tahu kapan tepatnya saya menyadari bahwa orang tua saya semakin tua.

Mungkin saat saya melihat mereka mulai berjalan lebih pelan. Mungkin saat saya menyadari bahwa wajah mereka kini dipenuhi garis-garis yang dulu tidak ada.

Yang saya tahu hanyalah satu hal: waktu tidak pernah berhenti, meskipun kita memintanya.

Jadi, jika malam ini Anda masih memiliki kesempatan untuk menghubungi orang tua, keluarga, atau orang yang Anda sayangi, lakukanlah.

Karena bisa jadi, yang akan paling kita sesali di masa depan bukanlah kesalahan yang pernah kita lakukan.

Melainkan cinta yang sebenarnya sempat kita berikan, tetapi terus kita tunda.


Baca juga perkembangan teknologi masa depan di Pisbon Aviation.

Temukan inovasi kendaraan masa depan di Pisbon Automotive.

Lihat berbagai analisis dan riset menarik di Pisbon Research.