![]() |
| Algoritma Tahu Kamu Lebih Dari Mantan dan Itu Sedikit Menyeramkan |
Dulu yang paling ngerti kebiasaan kamu itu mantan. Dia tahu kamu suka ngambek jam berapa, tahu kamu kalau marah diam, tahu kamu kalau lapar jadi sensitif. Sekarang? Algoritma. Dan bedanya, algoritma tidak pernah salah tanggal anniversary.
Tahun 2026 ini, kita hidup berdampingan dengan sistem yang tahu jam bangun kita, tahu kita sering stalking siapa, tahu kita biasanya belanja apa pas tanggal muda. Bahkan sebelum kamu sadar lagi bosan, timeline sudah berubah menampilkan hal yang bikin kamu betah scroll.
Dia Tidak Cemburu, Tapi Dia Mengamati
Algoritma tidak punya perasaan. Dia tidak cemburu. Dia tidak posesif. Tapi dia mengamati dengan konsisten. Setiap klik, setiap like, setiap berhenti 3 detik lebih lama di satu video, semua dicatat rapi tanpa drama.
Kamu pernah merasa habis ngomongin sesuatu, tiba-tiba iklannya muncul? Itu bukan sihir. Itu pola. Dunia digital membaca kebiasaanmu seperti buku harian yang kamu tulis sendiri tanpa sadar.
Kenyamanan yang Dibungkus Personalisasi
Kita bilang, “Enak ya, feed-ku relevan banget.” Ya memang. Karena algoritma belajar dari kamu. Dia tahu kamu suka konten motivasi pagi hari tapi malamnya nonton teori konspirasi. Dia tahu kamu sering cari artikel produktif tapi lebih sering nonton video receh.
Ini bukan tuduhan. Ini kenyataan. Algoritma hanya memantulkan kebiasaan kita sendiri. Kalau isi timeline kamu aneh, jangan salahkan server. Coba cek histori.
Lebih Setia Dari Mantan
Mantan bisa pergi. Algoritma tetap ada. Dia tidak ghosting. Dia update. Dia adaptif. Hari ini kamu suka topik bisnis, besok kamu galau, dia ikut menyesuaikan. Tidak menghakimi, cuma mengoptimalkan engagement.
Lucunya, kita merasa bebas di internet. Padahal pilihan yang muncul sudah difilter duluan. Bukan dikurung, tapi diarahkan halus. Seperti disetirin mobil autopilot tapi tetap merasa pegang setir.
Masalahnya Bukan Di Algoritma
Algoritma itu mesin matematika. Dia tidak punya niat jahat. Dia cuma memaksimalkan kemungkinan kamu bertahan lebih lama. Kalau kamu sering klik drama, drama yang diperbanyak. Kalau kamu sering baca edukasi, edukasi yang diperluas.
Jadi sebenarnya siapa yang membentuk siapa? Kita dibentuk algoritma, atau algoritma dibentuk kebiasaan kita? Jawabannya dua-duanya. Ini hubungan timbal balik tanpa status relationship.
2026 dan Kesadaran Digital
Di era AI dan personalisasi ekstrem, yang paling penting bukan mematikan algoritma. Tapi menyadari keberadaannya. Sadar bahwa apa yang kamu lihat bukan dunia utuh, tapi versi yang sudah disesuaikan untukmu.
Kalau kamu mau hidupmu berubah, mungkin bukan cuma mindset yang perlu di-upgrade. Tapi juga pola klik. Karena setiap klik itu suara. Dan algoritma mendengarnya lebih serius dari mantan yang dulu bilang, “Aku denger kok.”
Penutup yang Agak Ngena
Algoritma tahu kamu suka apa, takut apa, dan sering mikir apa. Tapi ada satu hal yang dia tidak bisa tebak sepenuhnya: keputusan sadar yang kamu buat setelah membaca ini.
Kamu mau terus disetir kebiasaan lama? Atau mulai klik dengan lebih sengaja? Tahun 2026 bukan soal teknologi makin pintar. Tapi soal manusia mau tetap punya kendali atau nyaman dipandu tanpa sadar.
Kalau kamu sampai sini dan merasa sedikit tersindir, tenang. Itu bukan karena artikel ini pintar. Itu karena algoritma memang sudah kenal kamu lama.

EmoticonEmoticon