Ketika Redaksi WINews Expert160-Pisbon Mendadak Jadi Anak Kedokteran dan Setengah Militer

Ketika Redaksi WINews Expert160-Pisbon Mendadak Jadi Anak Kedokteran dan Setengah Militer

Asli, hari ini kepala gue rasanya lebih berat daripada cicilan motor 3 tahun yang bunganya kayak mantan, kecil di awal, nyesek di belakang. Gimana nggak, di meja redaksi Pisbon mendadak mendarat berkas dari dr. H. Agus Ujianto dan tim TNI. Gue yang biasanya cuma mikirin gimana caranya dapet promo Flash Sale tengah malam sambil pura-pura butuh, mendadak dipaksa mikirin nasib kesehatan dunia lewat Regenerative Medicine.

Barusan banget gue dapet kuliah kesehatan dari Agus Ujianto soal sel punca alias stem cell. Intinya sih bikin merinding tapi optimis: organ tubuh kita itu bisa diperbaiki. Bisa direstorasi. Bisa diremajakan. Jadi kalau selama ini kita ngerasa badan udah kayak motor karbu tahun 90-an, ternyata ada harapan upgrade tanpa harus ganti rangka.

Baguslah. Soalnya ginjal gue udah mulai teriak gara-gara kebanyakan minum kopi sachet sambil nungguin balasan chat kamu yang nggak kunjung tiba. Sel punca ini ibarat pasukan cadangan super elit di dalam tubuh kita. Dia bisa berubah jadi apa aja yang dibutuhin. Rusak di jantung? Bisa bantu. Cedera sendi? Bisa bantu. Yang rusak cuma harga diri abis di-read doang? Nah itu belum ada jurnal ilmiahnya.

Regenerative Medicine Bukan Cuma Buat Orang Tajir

Jujur ya, awalnya gue kira regenerative medicine itu cuma buat orang-orang yang dompetnya tebalnya kayak skripsi anak teknik. Ternyata nggak sesimpel itu. Konsepnya keren: tubuh kita punya mekanisme penyembuhan alami, tinggal dibantu, diarahkan, dimaksimalkan. Istilahnya bukan sulap, bukan sihir, tapi sains yang kerja pelan tapi pasti.

Masalahnya, baca istilah medisnya bikin gue pengen balik ke zaman SD belajar mewarnai aja. Ada istilah autologous transplant, diferensiasi sel, biomolekuler—kepala gue langsung buffering kayak WiFi tetangga dipake rame-rame. Tapi demi masa depan kita iya, kita, biar nggak cuma hati yang bisa direparasi tapi ginjal dan jantung juga, mending kalian baca pelan-pelan. Kalau pusing, minum es teh dulu kayak gue. Jangan kopi lagi. Ginjal gue udah protes.

Dan yang bikin gue senyum tipis penuh kenakalan intelektual khas Pisbon: kita hidup di zaman di mana tubuh bisa “di-upgrade” dari dalam. Dulu orang mikir awet muda itu mitos, sekarang dibahas di forum ilmiah. Dulu orang takut operasi, sekarang orang diskusi terapi sel sambil ngopi. Ironisnya, kita lebih rajin update OS HP daripada update gaya hidup sehat.

TNI, Berkas, dan Sarapan yang Tertunda

Belum selesai gue mencerna paparan medis, tiba-tiba masuk lagi kiriman file dari tim Tentara Nasional Indonesia. Asli, rasanya gemeteran dapet email dari TNI padahal gue belum sarapan. Itu bukan takut, tapi lebih ke perasaan “wah ini serius banget, gue harus duduk yang bener.”

Biasanya gue buka email isinya promo diskon, undangan webinar motivasi yang ujung-ujungnya jualan kelas, atau notifikasi komentar netizen yang nanya hal-hal random. Ini yang masuk malah dokumen resmi. Font-nya aja udah keliatan disiplin.

Di situ gue sadar, dunia dokter dan dunia militer itu punya satu kesamaan: dua-duanya ngomong soal ketahanan. Satu ketahanan tubuh, satu ketahanan negara. Dua-duanya butuh disiplin. Dan dua-duanya bikin gue merasa kecil karena bangun pagi aja masih negosiasi sama alarm.

Kenakalan Intelektual di Meja Redaksi

Sebagai redaksi yang separuh serius separuh receh, gue ngerasa dapet amanah ini tuh kayak disuruh jadi jembatan antara dunia yang super ilmiah dan pembaca yang lagi rebahan sambil scroll. Tugas gue bukan cuma copy-paste, tapi nerjemahin bahasa langit jadi bahasa warung kopi.

Karena ilmu itu nggak boleh eksklusif. Kalau sel punca bisa berdiferensiasi jadi banyak jenis sel, tulisan juga harus bisa berdiferensiasi: serius tapi santai, ilmiah tapi nggak bikin migrain.

Dan setelah baca paparan panjang itu, kesimpulan gue sederhana tapi dalem: teknologi kita udah sejauh itu. Sel tubuh bisa diperbaiki. Organ bisa direstorasi. Harapan hidup makin realistis.

Yang belum bisa cuma satu: memperbaiki nasib jomblo lewat jalur Autologous Transplant. Kalau itu sih, bahkan Agus Ujianto juga angkat tangan. Apalagi TNI. Itu bukan urusan pertahanan negara, itu urusan takdir dan keberanian kirim chat duluan.

Penutup yang Setengah Pusing Setengah Bangga

Hari ini kepala gue memang berat. Lebih berat dari cicilan, lebih berat dari galon kosong yang harus ditukar. Tapi di balik itu ada rasa bangga kecil: redaksi receh kayak gue dipercaya buat mempublikasikan gagasan dari dunia dokter dan TNI.

Artinya apa? Artinya kita nggak boleh cuma jadi penonton zaman. Kita harus ngerti, minimal sedikit, bahwa masa depan kesehatan itu lagi ditulis sekarang. Dan kita kebagian tugas buat nyampein ke orang-orang yang mungkin lagi baca ini sambil nunggu nasi goreng dateng.

Kalau pusing, tarik napas. Kalau bingung, baca ulang. Kalau masih nggak ngerti, ya minimal ngerti satu hal: tubuh lo itu lebih canggih dari yang lo kira. Jadi tolong jangan disiksa terus-terusan sama begadang, kopi sachet, dan overthinking.

Editorial: TeamRED WINews – PISBON
(Sambil nahan pening, tapi tetep coba ganteng, walau belum tentu berhasil)

Artikel Terkait

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon