Tentang Rasa, Sadar, dan Cara Pulang yang Paling Masuk Akal

Tentang Rasa, Sadar, dan Cara Pulang yang Paling Masuk Akal

Ada satu hal yang akhirnya tersisa dalam hidup ini: rasa.
Karena apa pun yang terjadi, yang benar-benar kita alami bukan teorinya, bukan ceramahnya, tapi pahit, sakit, kesel, lega, syukur semuanya lewat rasa. Dan rasa itu nyata. Gue yang ngerasain, bukan orang lain.

Sering dibilang, pahit itu ulah sendiri. Salah langkah, salah pilih, salah ngeyel. Tapi di saat yang sama, pahit itu juga ujian. Dua-duanya bisa benar barengan. Justru di situ letak keadilannya hidup. Yang penting bukan siapa yang disalahkan, tapi apakah kita masih sadar ada Dia yang ngasih rasa itu. Kalau rasa itu ada, berarti hidup masih jalan, dan hubungan belum putus.

Gue sering mikir, semoga Dia juga “mau” merasakan perasaan gue. Bukan dalam arti Tuhan jadi manusia, tapi dalam arti Dia paham. Dan rasanya itu keyakinan paling manusiawi: kalau Tuhan Maha Tahu, ya pasti Dia tahu rasanya jadi kita, tanpa perlu kita jelasin panjang lebar.

Malam sering jadi waktu paling rawan. Siang kita sibuk pura-pura kuat, malam semua topeng jatuh. Bawaannya curhat, mikir yang aneh-aneh, ngitung dosa, ngerasa kecil. Di situ gue sadar satu hal: Tuhan Maha Pengampun, tapi bukan Maha Penerima Amal. Amal bisa ditolak, niat bisa cacat, tapi ampunan selalu terbuka. Jadi gue pilih logika paling sederhana: beramal semampunya, minta ampun sebanyak-banyaknya. Kalau dosa diampuni, selamat dulu. Urusan amal diterima, itu bonus.

Selama masih ada siang dan malam, baik dan buruk, enak dan nggak enak, hidup memang nggak akan pernah steril dari rasa. Dan itu normal. Yang penting bukan hidup tanpa pahit, tapi hidup yang masih bisa sadar, masih bisa balik. Sabar dan syukur bukan posisi final, tapi proses bolak-balik. Kadang sabar dulu, syukur belakangan. Kadang bersyukur dulu, sabar menyusul. Tuhan ngerti urutan tiap orang beda.

Gue pernah mengibaratkan diri ini wayang. Dan Tuhan dalangnya. Kadang kita ngerasa “gue ini Dia”, padahal maksudnya bukan jadi Tuhan, tapi lagi selaras. Lagi nurut. Lagi sefrekuensi. Wayang boleh merasa hidup, bergerak, dan berperan, tapi tali tetap di dalang. Dan justru di situ indahnya: kita bergerak, tapi nggak sendirian.

Artikel ini bukan buat ngajarin siapa-siapa. Ini catatan buat diri sendiri. Buat dibaca ulang suatu hari nanti, pas lagi lupa, pas lagi jatuh, pas lagi ngerasa jauh. Supaya inget: gue pernah sampai di titik sadar ini. Dan kalau hari ini terasa gelap, berarti dulu gue pernah terang, dan itu bukti bahwa terang bisa balik lagi.

Kalau nggak ada yang baca, nggak apa-apa.
Kalau cuma gue sendiri yang baca sambil ngedit, itu sudah cukup.
Karena kadang, tulisan bukan buat dunia tapi buat cara pulang.

Artikel Terkait

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon