AI SIAP

Doom Spending Sedang Viral: Mengapa Kita Justru Semakin Boros Saat Masa Depan Terasa Menakutkan?

Doom Spending Sedang Viral: Mengapa Kita Justru Semakin Boros Saat Masa Depan Terasa Menakutkan?

Ada satu hal yang selalu membuat saya heran tentang manusia modern. Ketika kondisi ekonomi sedang tidak menentu, logika seharusnya mengatakan bahwa kita harus lebih hemat. Namun kenyataannya, banyak orang justru melakukan hal yang sebaliknya. Mereka membeli gadget baru, memesan makanan mahal, liburan dadakan, hingga mengambil cicilan tambahan. Fenomena ini sekarang memiliki nama resmi, yaitu "Doom Spending".

Istilah ini sedang ramai dibahas sepanjang 2026 karena semakin banyak penelitian dan laporan keuangan yang menunjukkan bahwa generasi muda justru meningkatkan pengeluaran konsumtif ketika merasa pesimis terhadap masa depan ekonomi mereka. Ironisnya, semakin khawatir seseorang terhadap masa depan, semakin besar kemungkinan mereka menghabiskan uang untuk kesenangan jangka pendek. :contentReference[oaicite:0]{index=0}

Ketika pertama kali membaca tentang fenomena ini, saya langsung teringat beberapa keputusan finansial saya sendiri. Ternyata, sebagian besar pembelian impulsif yang pernah saya lakukan memang terjadi ketika saya sedang stres, lelah, atau merasa masa depan terlalu rumit untuk dipikirkan.

Apa Itu Doom Spending?

Doom Spending adalah perilaku menghabiskan uang secara impulsif sebagai respons terhadap kecemasan, ketidakpastian ekonomi, tekanan sosial, atau pesimisme terhadap masa depan. Alih-alih menabung untuk masa depan yang terasa tidak pasti, seseorang memilih menikmati kesenangan sesaat yang bisa dirasakan sekarang juga.

Fenomena ini mulai banyak dibahas setelah berbagai survei menunjukkan bahwa generasi muda menghadapi tekanan ekonomi yang cukup besar, mulai dari biaya hidup yang meningkat, harga rumah yang sulit dijangkau, hingga ketidakpastian pekerjaan akibat perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan. :contentReference[oaicite:1]{index=1}

Kalau dipikir-pikir, logikanya memang agak menyedihkan. Jika seseorang merasa tidak mungkin membeli rumah dalam waktu dekat, maka membeli kopi seharga puluhan ribu rupiah atau gadget baru terasa jauh lebih masuk akal untuk memberikan kebahagiaan instan.

Saya Pernah Menjadi Pelaku Doom Spending

Saya harus jujur. Beberapa tahun lalu, ketika menghadapi tekanan pekerjaan yang cukup berat, saya mulai memiliki kebiasaan aneh. Setiap kali merasa stres, saya membuka aplikasi marketplace dengan alasan "hanya melihat-lihat". Tentu saja, kita semua tahu bahwa "hanya melihat-lihat" adalah kalimat pembuka menuju bencana finansial kecil.

Yang lebih menarik, saya selalu mampu menemukan alasan logis untuk setiap pembelian. Headphone baru diperlukan untuk produktivitas. Keyboard mekanik dibutuhkan agar pekerjaan lebih nyaman. Kursi gaming dibutuhkan demi kesehatan tulang belakang. Entah bagaimana, semua pengeluaran impulsif selalu berhasil mendapatkan pembelaan hukum dari otak saya sendiri.

Beberapa minggu kemudian, saya menyadari bahwa saldo rekening saya ternyata memiliki pendapat yang berbeda mengenai definisi "investasi produktif" tersebut.

Mengapa Doom Spending Semakin Banyak Terjadi?

Ketidakpastian Ekonomi

Banyak generasi muda merasa bahwa pencapaian finansial tradisional seperti membeli rumah, membangun keluarga, atau pensiun nyaman menjadi semakin sulit dicapai. Akibatnya, orientasi keuangan mulai bergeser dari jangka panjang menjadi jangka pendek. :contentReference[oaicite:2]{index=2}

Budaya "Treat Yourself"

Tren "treatonomics" juga berkembang pesat pada 2026. Ketika kondisi ekonomi sulit, orang cenderung mencari kebahagiaan kecil yang masih bisa mereka kendalikan, seperti membeli makanan favorit, berlangganan hiburan, atau membeli barang yang memberikan kepuasan emosional. :contentReference[oaicite:3]{index=3}

PayLater Membuat Semua Terasa Mudah

Perkembangan layanan Buy Now Pay Later atau paylater membuat hambatan psikologis dalam berbelanja menjadi semakin kecil. Data industri menunjukkan pertumbuhan pembiayaan paylater yang sangat tinggi sepanjang 2026, terutama di kalangan usia produktif. :contentReference[oaicite:4]{index=4}

Masalahnya Bukan Karena Kita Bodoh

Salah satu kesalahan terbesar dalam literasi keuangan adalah menganggap bahwa orang boros karena mereka tidak pintar mengelola uang. Kenyataannya, banyak keputusan finansial buruk justru dibuat oleh orang-orang yang sebenarnya memahami konsep keuangan dengan baik.

Masalah utamanya adalah emosi. Ketika seseorang merasa stres, cemas, atau kehilangan harapan terhadap masa depan, otak manusia cenderung lebih menghargai kepuasan instan dibandingkan manfaat jangka panjang. Dalam kondisi seperti ini, logika sering kali kalah cepat dibandingkan tombol "checkout sekarang".

Dan jujur saja, tombol checkout memang dirancang untuk menang.

Bagaimana Cara Menghindari Doom Spending?

Buat Aturan Tunggu 48 Jam

Jika ingin membeli sesuatu yang bukan kebutuhan pokok, tunggu selama minimal 48 jam. Jika setelah dua hari Anda masih merasa membutuhkannya, maka pertimbangkan kembali dengan kepala yang lebih dingin.

Kenali Pemicu Emosional

Perhatikan kapan Anda paling sering berbelanja impulsif. Apakah setelah lembur, setelah bertengkar, atau setelah membaca berita ekonomi yang membuat stres. Mengenali pola adalah langkah pertama untuk mengendalikannya.

Berikan Hadiah dengan Anggaran

Menikmati hidup bukanlah kesalahan. Namun kebahagiaan juga membutuhkan anggaran. Tetapkan jumlah tertentu setiap bulan untuk hiburan atau self reward agar tetap sehat secara mental dan finansial.

Baca Juga

Kesimpulan

Doom Spending bukan sekadar kebiasaan buruk atau kurang disiplin. Fenomena ini adalah cerminan bagaimana manusia bereaksi terhadap ketidakpastian dan kecemasan. Ketika masa depan terasa sulit diprediksi, menikmati kebahagiaan kecil hari ini menjadi terasa lebih penting.

Namun, kebahagiaan sesaat yang dibayar dengan utang jangka panjang sering kali berubah menjadi sumber stres baru. Karena pada akhirnya, masalah terbesar bukanlah kita membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan. Masalah terbesar adalah ketika kita membeli ketenangan sesaat dengan mengorbankan ketenangan masa depan.

Dan percayalah, tidak ada notifikasi yang lebih menakutkan daripada tagihan paylater yang muncul tepat ketika saldo rekening sedang mencoba bertahan hidup.

Artikel Terkait

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon