AI SIAP

Orang Tua Kita Tidak Tiba-Tiba Menjadi Tua

Orang Tua Kita Tidak Tiba-Tiba Menjadi Tua

Dulu, waktu kita kecil, rasanya orang tua itu seperti manusia super.

Ayah bisa memperbaiki apa saja. Lampu mati, keran bocor, sepeda rusak, bahkan hati yang patah karena nilai matematika merah. Ibu juga seperti punya sihir. Entah bagaimana caranya, dengan uang yang pas-pasan, semua kebutuhan rumah selalu terasa cukup.

Lalu kita tumbuh besar.

Kita sibuk sekolah, kuliah, bekerja, membangun karier, mengejar mimpi, mencari pasangan, membayar cicilan, mengejar target, mengejar kehidupan yang katanya lebih baik.

Dan tanpa kita sadari, ada dua orang yang pelan-pelan berubah.

Mereka tidak tiba-tiba menjadi tua.

Kita saja yang terlalu sibuk sampai tidak sempat memperhatikan prosesnya.

Rambut Putih Itu Tidak Muncul Dalam Semalam

Suatu hari, kita pulang ke rumah dan baru sadar rambut ayah sudah dipenuhi uban. Cara jalannya tidak secepat dulu. Ia mulai bertanya ulang hal yang sama. Kacamatanya semakin tebal.

Ibu juga mulai sering mengeluh pegal. Tangannya yang dulu cekatan kini lebih lambat. Kadang ia lupa meletakkan barang. Kadang ia bercerita hal yang sama berulang kali.

Dulu kita tidak sabar ingin cepat dewasa.

Ternyata menjadi dewasa berarti menyaksikan orang yang kita cintai pelan-pelan menua.

Kesedihan Orang Dewasa yang Jarang Dibicarakan

Tidak ada mata pelajaran di sekolah yang mengajarkan cara menghadapi orang tua yang mulai renta.

Tidak ada tutorial yang benar-benar bisa mempersiapkan hati ketika melihat ayah yang dulu menggendong kita, kini meminta bantuan untuk membuka tutup botol.

Tidak ada pelatihan tentang bagaimana tetap tersenyum ketika ibu berkata, "Kalau nanti ibu sudah tidak ada..." lalu kita langsung memotong pembicaraan karena takut mendengarnya.

Kita bukan tidak tahu hidup itu sementara.

Kita hanya berpura-pura punya waktu lebih banyak.

Kita Sering Memberikan Sisa

Sisa waktu.

Sisa tenaga.

Sisa perhatian.

Kita menghabiskan energi terbaik untuk rapat, klien, media sosial, orang asing yang bahkan tidak mengenal kita.

Lalu pulang ke rumah dengan kesabaran yang sudah habis.

Padahal, orang tua kita tidak membutuhkan hadiah mahal.

Mereka hanya ingin didengar.

Ingin ditemani minum teh.

Ingin ditanya bagaimana kabarnya.

Ingin merasa bahwa keberadaan mereka masih penting di tengah dunia kita yang semakin sibuk.

Ironi yang Menampar

Saat kecil, kita menggandeng tangan mereka karena takut tersesat.

Saat dewasa, justru merekalah yang menggandeng tangan kita karena takut tertinggal.

Dulu mereka menunggu kita pulang sekolah sambil mengintip dari jendela.

Sekarang mereka menunggu notifikasi pesan yang kadang tidak pernah kita kirim.

Dulu mereka rela begadang ketika kita sakit.

Sekarang kita merasa terlalu lelah untuk menelepon lima menit.

Lucunya, kita selalu merasa masih punya besok.

Padahal Hidup Tidak Ada Gladi Resik

Hidup tidak memberi kesempatan latihan. Semua berlangsung langsung di panggung utama. Karena itu, menghargai saat ini menjadi begitu penting. Penyesalan sering datang bukan karena kita gagal menjadi sempurna, tetapi karena merasa masih punya banyak waktu yang ternyata tidak sebanyak yang kita kira.

Kita tidak pernah tahu kapan pelukan terakhir terjadi.

Kapan obrolan sederhana di meja makan menjadi kenangan.

Kapan suara yang setiap hari kita dengar berubah menjadi sesuatu yang hanya bisa kita rindukan.

Jika Hari Ini Mereka Masih Ada

Teleponlah.

Datangi mereka.

Dengarkan cerita yang sudah pernah mereka ulang berkali-kali seolah baru pertama kali mendengarnya.

Peluk lebih lama.

Kurangi menatap layar, lebih sering menatap wajah mereka.

Karena suatu saat nanti, yang paling mahal bukan rumah yang berhasil kita beli.

Bukan jabatan yang berhasil kita capai.

Bukan saldo rekening yang berhasil kita kumpulkan.

Melainkan kesempatan yang sudah lewat dan tidak bisa dibeli kembali.

Penutup

Kita mengira sedang membangun masa depan.

Padahal, pada saat yang sama, masa lalu kita sedang berjalan pelan menuju garis akhir.

Orang tua kita tidak tiba-tiba menjadi tua.

Kita hanya terlambat menyadari bahwa waktu terus bekerja, bahkan ketika kita terlalu sibuk untuk memperhatikannya.

Jadi, sebelum hidup kembali meminta kita berlari, mungkin malam ini sempatkan pulang. Atau setidaknya, kirim satu pesan sederhana.

"Ayah, Ibu, apa kabar? Aku kangen."

Barangkali, itu adalah kalimat yang paling ingin mereka dengar hari ini.

Baca Juga

Ingin memahami perkembangan teknologi dan riset yang memengaruhi masa depan? Kunjungi Pisbon Research.

Suka dunia otomotif? Temukan cerita menarik di Pisbon Automotive.

Pecinta dunia penerbangan dapat membaca berbagai artikel inspiratif di Pisbon Aviation.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon