![]() |
| Kita Mengejar Dunia Sampai Lupa Bertanya: Sebenarnya Kita Hidup untuk Apa? |
Setiap pagi manusia bangun dan kembali berlari. Ada yang mengejar kantor, ada yang mengejar uang, ada yang mengejar target, ada yang mengejar pelanggan, ada yang mengejar jabatan, dan ada yang mengejar seseorang yang bahkan belum tentu mau dikejar.
Kita menyebut semuanya sebagai perjuangan. Kata yang terdengar mulia untuk menjelaskan bahwa kita sedang kelelahan.
Kita bekerja keras agar hidup lebih baik. Setelah penghasilan naik, kebutuhan ikut naik. Setelah punya rumah, ingin rumah lebih besar. Setelah punya kendaraan, ingin kendaraan lebih bagus. Setelah punya jabatan, ingin jabatan lebih tinggi.
Begitu terus.
Seolah-olah hidup adalah treadmill raksasa yang tidak pernah memiliki tombol berhenti.
Kita Tidak Lagi Mengejar Kebahagiaan, Kita Mengejar Bukti Bahwa Kita Sukses
Dulu orang membeli sesuatu karena membutuhkannya. Sekarang kadang kita membeli sesuatu karena ingin terlihat berhasil.
Mobil bukan hanya kendaraan. Rumah bukan hanya tempat tinggal. Ponsel bukan hanya alat komunikasi. Liburan bukan hanya perjalanan.
Semuanya bisa berubah menjadi simbol.
Simbol bahwa kita berhasil. Simbol bahwa kita mampu. Simbol bahwa kehidupan kita tidak kalah dari orang lain.
Masalahnya, kalau kebahagiaan bergantung pada penilaian orang lain, kita tidak pernah benar-benar memiliki kebahagiaan sendiri.
Kita Takut Miskin, Tetapi Sering Lebih Takut Terlihat Miskin
Ini bagian yang mungkin agak menyakitkan.
Banyak orang memang takut kekurangan uang. Itu wajar. Tetapi ada ketakutan lain yang lebih halus, yaitu takut terlihat tidak mampu.
Takut memakai barang lama. Takut tinggal di rumah sederhana. Takut tidak ikut tren. Takut teman tahu bisnis sedang sepi. Takut mengatakan sedang tidak punya uang.
Akhirnya seseorang bisa menghabiskan uang yang sebenarnya tidak ia miliki hanya untuk mempertahankan citra bahwa dirinya memiliki uang.
Ironis sekali.
Kita bisa miskin secara finansial hanya karena terlalu sibuk membuktikan bahwa kita tidak miskin.
Media Sosial Membuat Perlombaan Menjadi Lebih Gila
Dulu kita hanya membandingkan diri dengan tetangga. Sekarang kita bisa membandingkan diri dengan jutaan manusia sebelum sarapan.
Buka media sosial, ada orang membeli rumah. Scroll sedikit, ada orang membeli mobil. Geser lagi, ada orang menikah. Lima detik kemudian ada orang membuka bisnis. Lalu muncul seseorang yang mengatakan penghasilannya ratusan juta per bulan sambil duduk di pantai.
Kita yang baru selesai membayar listrik kemudian bertanya, “Saya sebenarnya sedang melakukan apa dengan hidup saya?”
Padahal kita hanya melihat lima belas detik terbaik dari kehidupan orang lain.
Kita Membandingkan Belakang Layar dengan Panggung Orang Lain
Ini kesalahan yang sangat manusiawi.
Kita tahu semua kegagalan sendiri. Kita tahu utang sendiri. Kita tahu masalah keluarga sendiri. Kita tahu malam ketika kita menangis sendiri.
Tetapi dari orang lain, kita hanya melihat hasil akhirnya.
Kita melihat mobilnya, tetapi tidak melihat cicilannya. Kita melihat bisnisnya, tetapi tidak melihat kerugiannya. Kita melihat rumahnya, tetapi tidak melihat berapa lama ia membayarnya.
Kita melihat senyumnya, tetapi tidak pernah tahu apa yang terjadi setelah kamera dimatikan.
Lalu kita merasa gagal karena kehidupan kita terlihat biasa.
Yang Lebih Lucu, Orang yang Kita Kalahkan Belum Tentu Peduli
Kita menghabiskan banyak tenaga ingin lebih sukses daripada orang lain. Padahal bisa jadi orang yang ingin kita kalahkan itu sedang sibuk memikirkan orang lain.
Kita membeli mobil agar tetangga melihat. Tetangga ternyata sedang memikirkan cicilan rumahnya.
Kita membeli ponsel baru agar teman kagum. Teman ternyata sedang memikirkan masalah pekerjaannya.
Kita mengunggah foto liburan agar orang iri. Orang yang melihat mungkin hanya memberi tanda suka sambil kembali menggoreng telur.
Begitulah dunia.
Kita sering berperang dalam perang yang bahkan tidak diketahui musuhnya.
Kesuksesan Modern Kadang Hanya Perlombaan Membuat Orang Lain Iri
Kalimat ini memang terdengar kasar, tetapi ada benarnya.
Sebagian orang tidak benar-benar ingin kaya. Mereka ingin lebih kaya daripada orang tertentu.
Sebagian orang tidak benar-benar ingin sukses. Mereka ingin terlihat lebih sukses daripada teman sekolahnya.
Sebagian orang tidak benar-benar ingin bahagia. Mereka ingin terlihat lebih bahagia daripada mantannya.
Akibatnya, tujuan hidup tidak lagi berasal dari dalam diri. Tujuan hidup ditentukan oleh papan skor sosial.
Dan Papan Skor Itu Tidak Pernah Selesai
Hari ini kita merasa menang karena memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Besok muncul orang yang memiliki dua kali lebih banyak.
Kita memiliki rumah. Orang lain punya tiga rumah.
Kita punya mobil. Orang lain punya koleksi mobil.
Kita punya bisnis. Orang lain punya perusahaan.
Kita punya satu juta pengikut. Orang lain punya sepuluh juta.
Kalau ukuran kesuksesan adalah selalu lebih banyak daripada orang lain, maka kita telah memilih perlombaan yang mustahil dimenangkan.
Karena Selalu Ada Orang yang Lebih Kaya
Ini fakta yang sederhana tetapi sering kita lupakan.
Jika kekayaan menjadi ukuran harga diri, kita akan selalu memiliki alasan untuk merasa kurang.
Selalu ada orang yang memiliki rumah lebih besar. Mobil lebih mahal. Bisnis lebih besar. Tabungan lebih banyak. Liburan lebih jauh.
Bahkan orang yang memiliki miliaran rupiah bisa merasa miskin ketika duduk di sebelah orang yang memiliki triliunan.
Angka ternyata memiliki kemampuan aneh untuk membuat manusia lupa bersyukur.
Jabatan Juga Tidak Pernah Memberikan Kepuasan Permanen
Setelah menjadi staf, ingin menjadi supervisor. Setelah supervisor, ingin menjadi manajer. Setelah manajer, ingin menjadi direktur.
Ketika akhirnya duduk di kursi tertinggi, muncul ketakutan baru: siapa yang sedang mengincar kursi saya?
Jabatan memberikan pengaruh, tetapi juga memberikan kecemasan.
Orang yang berada di bawah ingin naik. Orang yang berada di atas takut turun.
Begitulah tangga karier.
Semua orang sibuk naik, tetapi jarang ada yang bertanya apakah gedungnya memang layak dinaiki.
Kita Bahkan Mengubah Anak Menjadi Proyek Kesuksesan
Ini bagian yang lebih sensitif.
Kadang orang tua tidak sadar bahwa ambisi mereka sedang diwariskan kepada anak. Anak harus pintar. Harus juara. Harus masuk sekolah bagus. Harus kuliah di tempat bergengsi. Harus mendapatkan pekerjaan keren.
Semua itu tentu bisa menjadi harapan yang baik.
Tetapi anak bukan proyek untuk memperbaiki gengsi keluarga.
Anak adalah manusia yang suatu hari harus menjalani kehidupannya sendiri.
Jangan sampai kita berhasil membuat anak mendapatkan masa depan yang bagus, tetapi gagal membuatnya menikmati masa depan tersebut.
Kita Mengajarkan Anak Mengejar Nilai, Lalu Bingung Ketika Mereka Mengejar Uang
Sejak kecil kita sering mengatakan, “Belajar yang rajin supaya sukses.”
Lalu ketika dewasa, kita terkejut melihat mereka mengukur segala sesuatu dengan uang.
Padahal selama bertahun-tahun kita sendiri menunjukkan bahwa keberhasilan dapat diukur dari angka.
Nilai sekolah berupa angka. Gaji berupa angka. Omzet berupa angka. Jumlah rumah berupa angka. Jumlah pengikut berupa angka.
Lalu kita bertanya mengapa manusia menjadi terlalu terobsesi dengan angka.
Mungkin karena sejak kecil kita memang mengajarinya begitu.
Kerja Keras Itu Penting, Tetapi Kerja Keras Bukan Agama
Kita sering memuja kerja keras seolah-olah semakin lelah berarti semakin mulia.
Padahal manusia bukan mesin.
Ada waktu untuk bekerja. Ada waktu untuk istirahat. Ada waktu untuk keluarga. Ada waktu untuk berpikir. Ada waktu untuk tidak melakukan apa-apa tanpa harus merasa bersalah.
Tubuh yang terus dipaksa suatu hari akan mengirim surat protes dalam bentuk kelelahan.
Dan biasanya surat tersebut datang tanpa fitur unsubscribe.
Kita Bekerja untuk Hidup, Tetapi Kadang Hidup Hanya untuk Bekerja
Senin sampai Jumat bekerja. Sabtu mengurus pekerjaan yang tertunda. Minggu memikirkan pekerjaan hari Senin.
Kemudian umur bertambah.
Anak tumbuh.
Orang tua menua.
Teman-teman mulai jarang bertemu.
Suatu hari kita memiliki cukup uang, tetapi waktu untuk menikmati uang tersebut sudah jauh lebih sedikit.
Ini bukan berarti kita harus berhenti bekerja dan menjadi filsuf di pinggir pantai. Kita tetap membutuhkan penghasilan.
Tetapi kita perlu bertanya: berapa harga yang sebenarnya kita bayar untuk sebuah kehidupan yang kita sebut sukses?
Karena Waktu Tidak Bisa Dicicil
Rumah bisa dicicil. Mobil bisa dicicil. Barang bisa dicicil.
Waktu tidak.
Kita tidak bisa mengatakan kepada anak, “Tunggu sebentar, Ayah sedang mengejar target. Masa kecilmu nanti kita cicil ketika Ayah sudah kaya.”
Kita juga tidak bisa berkata kepada orang tua, “Tunggu lima tahun lagi, setelah bisnis saya sukses kita akan sering bersama.”
Waktu tidak bekerja seperti itu.
Ia pergi tanpa negosiasi.
Barangkali Kita Tidak Membutuhkan Lebih Banyak Harta
Mungkin yang kita butuhkan adalah batas.
Batas berapa banyak yang cukup. Batas berapa banyak pekerjaan yang sanggup dilakukan. Batas berapa banyak utang yang layak diambil. Batas berapa banyak perhatian orang lain yang perlu kita cari.
Karena tanpa batas, “cukup” akan selalu berubah menjadi “sedikit lagi”.
Satu juta menjadi sepuluh juta. Sepuluh juta menjadi seratus juta. Seratus juta menjadi satu miliar.
Bukan karena kebutuhan selalu bertambah, tetapi karena standar hidup ikut naik.
Yang Menyedihkan, Kita Sering Baru Belajar Arti Cukup Setelah Kehilangan
Ketika sehat, kita mengejar uang.
Ketika sakit, kita ingin sehat.
Ketika sibuk, kita ingin punya waktu.
Ketika sendirian, kita ingin keluarga.
Ketika tua, kita ingin kembali muda.
Manusia memang makhluk yang unik. Sering kali baru menyadari nilai sesuatu setelah sesuatu tersebut tidak mudah didapatkan lagi.
Jangan Tunggu Kehidupan Mengajari dengan Cara yang Mahal
Kita tidak harus kehilangan semuanya untuk belajar menghargai apa yang sudah dimiliki.
Kita bisa belajar sekarang.
Belajar menikmati makan malam tanpa membuka ponsel. Belajar mendengarkan pasangan tanpa sibuk menjawab pesan. Belajar bermain bersama anak tanpa memikirkan pekerjaan. Belajar pulang tepat waktu sesekali.
Kebahagiaan tidak selalu membutuhkan proyek besar.
Kadang ia hanya membutuhkan perhatian.
Lalu Apa Arti Sukses Sebenarnya?
Mungkin sukses bukan ketika semua orang iri kepada kita.
Mungkin sukses adalah ketika kita tidak lagi terlalu peduli apakah orang lain iri atau tidak.
Sukses bukan hanya mampu membeli sesuatu, tetapi mampu mengatakan tidak ketika kita sebenarnya tidak membutuhkannya.
Sukses bukan hanya memiliki banyak uang, tetapi memiliki cukup waktu untuk menikmati kehidupan.
Sukses bukan hanya memiliki banyak teman, tetapi memiliki beberapa manusia yang tetap berada di sisi kita ketika tidak ada keuntungan yang bisa mereka dapatkan.
Sukses bukan hanya dikenal banyak orang, tetapi dikenal dengan baik oleh orang-orang yang paling dekat dengan kita.
Orang Tua yang Masih Menunggu Kita Pulang Mungkin Lebih Berharga daripada Ribuan Followers
Kita bisa memiliki ribuan pengikut di internet, tetapi belum tentu ada satu orang yang benar-benar mengenal isi hati kita.
Kita bisa mendapatkan banyak komentar, tetapi belum tentu mendapatkan seseorang yang datang ketika kita sedang sakit.
Kita bisa terkenal di luar rumah, tetapi menjadi orang asing di rumah sendiri.
Di zaman yang begitu sibuk mencari perhatian publik, mungkin perhatian dari keluarga justru menjadi kemewahan yang paling sering kita abaikan.
Jangan Sampai Kita Menjadi Kaya tetapi Tidak Pernah Merasa Memiliki Kehidupan
Ini bukan serangan kepada orang kaya. Kekayaan bisa menjadi sesuatu yang sangat baik ketika digunakan untuk membangun kehidupan yang lebih aman, membantu keluarga, membuka lapangan pekerjaan, dan memberikan kebebasan.
Masalahnya bukan memiliki banyak.
Masalahnya adalah ketika “memiliki banyak” tidak pernah terasa cukup.
Kalau setiap pencapaian hanya menjadi alasan untuk mengejar pencapaian berikutnya, kapan kita akan duduk dan berkata, “Terima kasih. Hari ini saya cukup bahagia.”
Dunia Tidak Membutuhkan Kita untuk Menang Setiap Hari
Ada hari ketika kita gagal.
Ada hari ketika orang lain lebih baik.
Ada hari ketika bisnis rugi.
Ada hari ketika pekerjaan berantakan.
Ada hari ketika kita tidak produktif.
Dan itu tidak membuat kita menjadi manusia yang gagal.
Kita bukan saham yang harus selalu naik.
Kita manusia.
Ada naik. Ada turun. Ada istirahat. Ada mulai lagi.
Barangkali Perlombaan Terbesar Adalah Melawan Keserakahan Diri Sendiri
Kita sering mengira musuh kita adalah orang lain.
Padahal musuh terbesar mungkin adalah suara dalam kepala yang selalu berkata, “Kurang.”
Kurang kaya.
Kurang sukses.
Kurang terkenal.
Kurang cantik.
Kurang tampan.
Kurang pintar.
Kurang dihargai.
Suara itu tidak pernah berhenti jika kita terus memberinya makan.
Karena itu, mungkin salah satu bentuk kemenangan terbesar adalah mampu berkata, “Cukup.”
Cukup Bukan Berarti Menyerah
Ini harus dibedakan.
Mengatakan cukup bukan berarti berhenti berkembang. Kita tetap boleh memiliki ambisi. Tetap boleh ingin kaya. Tetap boleh ingin membangun bisnis besar. Tetap boleh mengejar jabatan.
Tetapi kita tidak boleh menyerahkan seluruh nilai diri kepada hasil perlombaan tersebut.
Kita bekerja untuk hidup, bukan menyerahkan hidup sepenuhnya kepada pekerjaan.
Kita mencari uang untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, bukan menjadikan seluruh kehidupan sebagai mesin pencetak uang.
Kalau Semua Orang Berlari, Tidak Ada Salahnya Kita Sesekali Bertanya
Ke mana?
Untuk apa?
Dan siapa yang sebenarnya kita coba kalahkan?
Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya bisa mengubah banyak hal.
Mungkin selama ini kita mengejar sesuatu hanya karena orang lain juga mengejarnya.
Mungkin kita membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, tetapi karena takut dianggap tertinggal.
Mungkin kita mengejar jabatan bukan karena ingin memimpin, tetapi karena ingin dihormati.
Mungkin kita mencari cinta bukan karena siap mencintai, tetapi karena takut sendirian.
Dan mungkin kita mengejar uang bukan karena ingin bebas, tetapi karena ingin membuktikan sesuatu kepada seseorang.
Penutup: Jangan Sampai Menang di Dunia tetapi Kalah di Rumah Sendiri
Pada akhirnya, semua perlombaan akan selesai.
Harta akan berpindah tangan. Jabatan akan berganti. Popularitas akan hilang. Wajah akan menua. Tubuh akan melemah. Orang-orang yang dulu kita kejar untuk mendapatkan pengakuan mungkin bahkan tidak mengingat nama kita.
Yang tersisa adalah kehidupan yang benar-benar kita jalani.
Apakah kita pernah hadir untuk keluarga?
Apakah kita pernah membantu orang lain tanpa meminta balasan?
Apakah kita pernah mencintai tanpa menjadikan cinta sebagai transaksi?
Apakah kita pernah memiliki uang tanpa membiarkan uang memiliki kita?
Apakah kita pernah berhasil tanpa harus menginjak manusia lain?
Kalau jawabannya iya, mungkin kita sebenarnya sudah jauh lebih sukses daripada yang kita kira.
Sebab dunia terlalu sibuk mengajarkan manusia cara mendapatkan lebih banyak, tetapi terlalu sedikit mengajarkan kapan harus merasa cukup.
Kita diajari bagaimana memenangkan persaingan, tetapi jarang diajari bagaimana menjadi manusia yang baik setelah menang.
Kita diajari mengejar dunia, tetapi jarang diajari kapan harus berhenti mengejar.
Dan mungkin suatu hari, ketika semuanya sudah terlambat, kita akan memahami satu kenyataan yang sangat sederhana:
Kita tidak pernah benar-benar memiliki dunia. Kita hanya sebentar melewatinya.
Jadi jangan sampai seluruh hidup dihabiskan untuk mengumpulkan sesuatu yang akhirnya tidak bisa ikut masuk ke dalam liang kubur.
Carilah uang, tetapi jangan kehilangan diri sendiri.
Kejar cita-cita, tetapi jangan kehilangan keluarga.
Bangun nama, tetapi jangan kehilangan karakter.
Carilah cinta, tetapi jangan kehilangan harga diri.
Dan kalau suatu hari kita berhasil mendapatkan banyak hal, semoga kita masih menjadi manusia yang sama yang dahulu memulai perjalanan dengan hati sederhana.
Karena pada akhirnya, dunia mungkin mengingat berapa banyak yang kita miliki.
Tetapi orang-orang yang benar-benar mencintai kita akan mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka ketika kita memiliki kesempatan untuk menjadi apa saja.
Bacaan Lain dari Pisbon
Jika ingin melihat bagaimana teknologi membuat manusia semakin cepat bekerja sekaligus semakin sulit berhenti bekerja, baca juga Computer ArtWork.
Untuk melihat hubungan gaya hidup, kendaraan, biaya kepemilikan, dan keputusan manusia dalam kehidupan modern, kunjungi Pisbon Automotive.
Sementara kisah tentang manusia yang terus bergerak mengejar jarak, teknologi, pekerjaan, dan perjalanan dapat ditemukan di Pisbon Aviation.

EmoticonEmoticon